Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye Kungunjungi sentra mebel di Kelurahan Manongkoki,

mediahitamputih.com.—-Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye mengunjungi sentra mebel di Kelurahan Manongkoki, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Sabtu 3/10/2026).
Kunjungan dilakukan sekitar pukul 10.00 Wita di rumah sekaligus tempat usaha mebel milik H aharuddin Dg Ngago.
Lokasi usaha tersebut berjarak sekitar 100 meter di sebelah barat Kantor Lurah Manongkoki, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Daeng Manye datang bersama ajudannya dan disambut H Baharuddin Dg Ngago, Lurah Manongkoki, serta sejumlah tokoh masyarakat.
Ia kemudian melihat langsung proses produksi mebel di area usaha milik H Baharuddin Dg Ngago.
Daeng Manye menyusuri tumpukan kayu gelondongan hingga menuju mesin pemotongan kayu atau sawmill.
Selama sekitar 20 menit, Daeng Manye mengamati proses pemotongan kayu menjadi papan yang digunakan untuk produksi mebel.
Usai melihat proses produksi, Daeng Manye berdiskusi bersama warga di halaman rumah H Baharuddin Dg Ngago.
Dalam perbincangan tersebut, terungkap besarnya aktivitas usaha mebel yang berkembang di Manongkoki.
“Di sini ada berapa yang punya usaha mebel, dan bagaimana kapasitas produksinya?” tanya Daeng Manye.
H Baharuddin Dg Ngago menyebut terdapat sekitar 100 pengrajin mebel di wilayah tersebut.
“Di sini ada kurang lebih 100 pengrajin mebel Pak Bupati, dari skala kecil, menengah, sampai besar. Yang skala besar ada lima usaha,” jawab H Baharuddin.
Ia mengatakan terdapat 12 unit mesin sawmill yang beroperasi setiap hari untuk menyuplai kebutuhan kayu para pengrajin.
“Dalam satu mesin somel itu tiap hari mengolah satu truk kayu gelondongan. Jadi total ada 12 truk kayu sehari,” jelasnya.
Menurut H Baharuddin, produksi tersebut dapat menghasilkan lebih dari 200 lemari dalam sehari.
Mendengar penjelasan tersebut, Daeng Manye kemudian menghitung potensi perputaran uang dari kebutuhan bahan baku kayu.
“Satu truk itu berapa kubik? Empat kubik? Berarti 4 dikali Rp4 juta itu Rp16 juta,” ujar Daeng Manye.
“Kalau Rp16 juta dikali 12 truk, bisa Rp192 juta, hampir Rp200 juta sehari!” lanjutnya.
Daeng Manye menilai aktivitas tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang berputar di sentra mebel Manongkoki.
“Satu hari habis Rp200 juta bahan baku untuk 100 pengrajin,” katanya.
Selain bahan baku, Daeng Manye juga menyoroti potensi penyerapan tenaga kerja dari usaha mebel tersebut.
“Kalau rata-rata 100 pengrajin menyerap 3 orang pekerja, berarti ada 300 tenaga kerja lokal yang terserap di sini. Ini potensi luar biasa,” ujarnya.
Dalam diskusi itu, H Baharuddin juga menjelaskan pemasaran produk mebel Manongkoki.
Produk mebel telah dipasarkan di Takalar hingga sejumlah daerah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Namun, ia menyebut produksi meja dan kursi sekolah dinilai lebih menjanjikan apabila mendapat pesanan.
“Kalau lemari, prosesnya agak lama dan untungnya tipis. Lebih bagus meja-kursi sekolah, cuma itu tergantung pesanan sekolah,” katanya.
Daeng Manye kemudian mendorong pengrajin memperkuat promosi melalui platform digital.
“Ini luar biasa, tinggal perlu dipromosikan lebih masif, bisa lewat konten media sosial dan kanal digital lainnya,” ujar Daeng Manye.
Ia menilai produksi mebel dan bangku sekolah dapat menjadi salah satu potensi ekonomi warga Manongkoki.
“Apalagi fokus di sini membuat mebel dan bangku sekolah. Ini sangat bermanfaat bagi kemajuan warga Manongkoki dan Takalar pada umumnya,” lanjutnya.
Dalam kesempatan tersebut, seorang warga kemudian melontarkan seloroh, “Ingat mebel, ingat Manongkoki!”
Daeng Manye menyambut seloroh tersebut dan menyebutnya dapat menjadi tagline promosi.
“Nah, itu bagus! Bisa jadi tagline promosi,” kata Daeng Manye sembari tertawa.
Ia kemudian membandingkan Manongkoki dengan sejumlah daerah yang dikenal sebagai sentra mebel.
“Manongkoki ini sentra mebel, sama seperti sentra pengrajin mebel di Jawa, seperti Jepara dan Pasuruan,” ujarnya.
Daeng Manye juga mengajak sekolah yang membutuhkan meja dan kursi untuk mempertimbangkan produk mebel lokal Manongkoki.
“Salam untuk seluruh pengrajin. Semoga masyarakat di Manongkoki ini hidupnya semakin sejahtera,” katanya.
“Ayo, sekolah-sekolah yang butuh kursi, bangku, atau meja, jangan lupa ke Manongkoki! Lihat-lihat dan pesan produk lokal di sini,” lanjutnya.
Sebelum meninggalkan lokasi, Daeng Manye menyampaikan kunjungan tersebut memberikan sejumlah masukan terkait pengembangan usaha mebel.
“Terima kasih atas sambutannya. Meskipun kunjungan ini dadakan, banyak masukan penting yang kami serap untuk bahan penyusunan program pengembangan UMKM ke depan,” tutupnya (yunk)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*